imaginatiocn

2537 words

Pada kursi panjang di koridor ruang rawat inap, Giska duduk dengan perasaan campur aduk. Ibu jarinya sesekali mengusap layar ponsel ke kanan dan ke kiri tanpa arah pasti kemana tujuannya.

Beberapa perawat terlihat melewatinya, diantaranya ada yang memberikan senyuman kecil sebagai tanda keramahan padanya. Giska membalas senyuman itu.

Tubuhnya terasa lelah. Kalau diingat kembali, Giska belum tidur dari semalam. Matanya harus terjaga sepanjang malam karena Gilsa yang dengan tiba-tiba mengeluh ingin muntah, mau tidak mau ia harus siap dan sigap kalau-kalau adiknya muntah.

Tanpa sadar matanya terpejam untuk beberapa menit sebelum akhirnya Gya kembali membangunkannya.

“Gis,” panggil Gya.

Mata Giska terbuka, dilihatnya sang kakak sudah duduk di sampingnya. Ia menegakkan tubuhnya.

“Kenapa bisa jadi kayak gini?” tanya Gya tanpa basa basi.

Giska menghela napas panjang sebelum menjawab.

“Gilsa nggak bilang apa-apa teh ke aku, nggak bilang kalo dia lagi sakit.” Giska tau jawabannya hanya membuat Gya kesal.

“Dari awal aku udah nyuruh kamu bawa Gilsa ke dokter, harusnya kamu dengerin!” bentak Gya.

“Bisa berhenti keras kepala nggak, Gis? Aku, Mama, Papa nitipin Gilsa ke kamu, kita percaya kamu bisa jaga dia karna kamu kakaknya.”

“Kamu kakaknya, Giska.” Gya mengulang kalimat terakhirnya.

“Mau bilang Gilsa yang nggak pernah bisa denger omongan kamu? Berarti ada yang salah di kamu, kenapa adik kamu nggak bisa dengerin kamu? Coba deh Gis, kalau kamu bisa sedikit lebih tegas dan pengertian sama Gilsa, dia pasti bisa dengerin.”

“Jadi Gilsa sakit karna aku?”

“Jelas-jelas aku udah nyuruh kamu bawa dia ke dokter, kamu lakuin nggak?”

“Iya maaf kalo aku kurang tegas.” Giska sedikit sadar akan hal itu.

“Gilsa itu lagi di fase mencari jati diri, banyak hal yang mau dia coba. Fase yang bikin Mama sama aku setiap hari khawatir sama dia. Aku, Mama sama Papa juga nggak mau ninggalin kalian berdua di Bandung, tapi kalo nggak gini kita mau makan apa? Bayar kuliah kamu gimana? Tolong ngerti, Gis.”

“Teteh, Mama sama Papa nggak nyuruh kamu cari uang. Biarin itu urusan kita. Tugas kamu ya lulus kuliah cepet dan jagain Gilsa.”

Giska diam. Bukan karna ia tidak memiliki argumen, tetapi mata dan tubuhnya terasa lelah bukan main untuk melawan Gya.

“Kamu mikirin nggak perasaan Mama gimana?”

Mungkin ini bukan saatnya untuk Giska diam.

“Kalo teteh mikirin nggak perasaan aku gimana?” Giska membuka suara.

Hening. Belum ada jawaban sampai akhirnya Giska kembali berbicara.

“Mau aku tunjukkin gimana usaha aku ngadepin Gilsa sampe berdarah-darah juga nggak ada gunanya. Kamu juga nggak mau tau kayaknya, yang kamu mau cuma semuanya harus berjalan sesuai keinginan kamu. Selebihnya kamu nggak peduli, apalagi perasaan aku. Mungkin itu hal paling nggak penting menurut kamu. Bener nggak?”

“Omongan kamu nggak usah kemana-mana, Gis. Kita lagi bahas Gilsa.”

Giska tertawa getir. “Tuh kan nggak penting.”

“Kemana kamu semalem? Kenapa yang bawa Gilsa ke rumah sakit Hanif?”

“Aku lagi skripsian.”

“Sampe tengah malem? Yang bener aja kamu, Gis. Skripsian atau kelayapan? Kamu tau kan kakak itu cerminan untuk adiknya? Gimana Gilsa nggak suka kelayapan sampe malem kalo kamu aja kayak gitu.”

Tatapan mata Gya seketika menciptakan atmosfer di koridor Rumah Sakit menjadi semakin dingin. Deru napas Giska semakin cepat, emosinya memuncak tetapi bisa tertahan.

“Semua ada alasannya, teh. Kenapa aku milih skripsian di luar.” Giska mengatur napasnya sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Di rumah sepi, kepala aku rasanya mau pecah lama-lama di rumah. Perasaan sedih, takut, khawatir, kecewa selalu aku rasain kalo di rumah sendiri.”

“Aku cuma butuh keluar dari sana, aku butuh tenang buat beberapa waktu tanpa mikirin itu semua. Kamu nggak tau rasanya, karna kamu sekalipun nggak pernah nanyain kabar aku!”

Suara Giska terdengar tenang, ketenangan itu justru membuat Gya tercekat dan tubuhnya nyaris membeku.

Bertahun-tahun menjadi seorang kakak dari Giska, ia tidak pernah mendengar bagaimana sang adik mengutarakan perasaannya. Siang ini, pertama kalinya Gya mendengar kalimat itu. Kalimat menyedihkan tapi disampaikan dengan tenang tanpa tangisan di mata adiknya.

“Aku tau kamu baik-baik aja, aku percaya kamu bisa jaga diri kamu sendiri, Gis.”

“Yang menurut kamu baik-baik aja, ternyata nggak.”

Tanpa sadar tangan Giska mengepal dengan kuat.

“Aku nggak minta diturutin segala hal kayak Gilsa dan diperhatiin kayak Gilsa, cuma satu yang aku mau. Tanyain kabar aku juga teh, setidaknya satu bulan sekali kalo satu minggu sekali berat buat kamu.”

“Jangan malah tanyain kabar skripsi aku dan nekan aku untuk cepet lulus. Aku juga berusaha. Dibanding itu, tanya apa aku baik-baik aja? Apa hari ini berjalan sesuai sama keinginan aku? Apa aku sehat? Tanya sekali aja, kasih aku pertanyaan yang biasa kamu tanya ke Gilsa.”

“Bukan cuma kamu. Pertanyaan-pertanyaan itu juga nggak pernah aku dapet dari Mama. Aku masih punya keluarga, tapi nggak ada satupun yang bisa meluk aku. Aku masih punya keluarga, tapi semua kesalahan dilimpahin ke aku seakan-akan emang aku yang salah.”

Giska berhasil mengutarakan rasa yang selama ini ia pendam hingga membusuk dan sudah terlanjur menjadi luka yang bernanah. Gadis itu menunduk, ia berharap air mata bisa berlinang di bawah matanya dan menunjukkannya di hadapan Gya, kalau apa yang ia rasakan memang sesakit itu. Namun kenyataannya, dirinya lebih kuat dari yang dibayangkan.

“TETEH NGGAK TAU KAN TERNYATA SEGININYA AKU NYIMPEN SEMUANYA?” Tiba-tiba nada bicara Giska meninggi. Bagian belakang kepala gadis itu terasa memberat.

“Nggak usah teriak! Telinga aku masih bisa denger dengan baik ya Giska.” Gya tidak mau kalah, matanya menyalang ke arah Giska.

“Kamu pikir di keluarga ini cuma kamu yang menderita? Cuma kamu yang nyimpen semuanya sendiri? Nggak. Kamu nggak tau apa-apa, Gis! Dan nggak perlu tau. Semua yang aku lakuin, kamu nggak tau apa aja yang terjadi dibaliknya. KAMU MENDERITA, SAMA AKU JUGA!” Wajah Gya memerah, deru napasnya semakin cepat hingga tubuhnya bergetar.

Beberapa pasang mata memperhatikan perdebatan mereka. Koridor yang awalnya sunyi, seketika dipenuhi gema dari suara mereka berdua. Keduanya memancarkan aura kemarahan yang sudah lama terpendam, tidak ada yang berani menegur atau bahkan menyentuh mereka. Semua orang di sana seolah-olah memberikan ruang pada Gya dan Giska untuk saling mengetahui perasaannya masing-masing.

Giska susah payah menelan ludahnya. Lehernya terasa seperti tercekat.

“Kayaknya percuma aku ngomong panjang lebar, toh kamu juga nggak akan paham.” Giska bangkit dari duduknya.

“Gis, udah. Jangan kekanak-kanakan. Kamu pikir ngerengek kayak gini bisa bikin kesalahan kamu ke Gilsa mereda. Kamu tetep salah ya. Sekarang yang mau aku bahas disini Gilsa, kalo mau bahas itu bisa nanti malem kita ngobrol lagi di rumah.”

“Iya aku salah, aku minta maaf udah lalai sampe Gilsa harus dirawat. Dan aku sangat amat berterima kasih, karna teteh, aku masih bisa makan dan hidup dengan layak. Tapi satu hal yang harus kamu tau, bukan cuma dukungan materil yang aku butuh. Aku juga butuh dukungan moral kayak yang kamu lakuin ke Gilsa.”

Giska meraih tasnya, “Hari ini aku izin nggak akan pulang ke rumah, jadi nggak ada yang perlu diobrolin lagi.”

“Satu lagi. Jangan egois teh, nanti lupa caranya minta maaf.”

Giska pergi menjauh meninggalkan Gya yang sedang termangu. Ia pergi tanpa memberikan ucapan selamat tinggal yang lebih layak pada Gya. Giska hanya berusaha menjauh, kembali mengasingkan diri dari keramaian.

Bagaikan kepingan puzzle yang sudah lama dibiarkan utuh, hari ini gadis itu melemparnya hingga berantakan tak berbentuk lagi. Entah siapa yang bisa menyusunnya kembali, ia tidak terlalu peduli. Setidaknya Giska bisa merasa sedikit lega saat ini.

442 words.

Setelah Hanif pergi menjauh dan seluruh orang membubarkan diri untuk melanjutkan aktifitas yang sempat tertunda karena sebuah drama.

Giska kembali terduduk dikursi.

Saat ini kata 'kalau' sedang memenuhi isi kepalanya.

Kalau saja dirinya bisa lebih perhatian pada Gilsa... Kalau saja dirinya bisa menurunkan egonya sebagai seorang Kakak... Kalau saja dirinya mendengar kata-kata Teh Gya... Kalau saja dirinya bisa lebih tegas pada Gilsa... Dan kalau saja bukan dirinya yang menjadi seorang Kakak untuk Gilsa...

Mungkin tidak akan separah ini.

“Gue nggak becus Bay jadi kakak.” Ditariknya napas dalam-dalam. Giska kini mengutuk dirinya sendiri.

Akbar termenung.

“Gis, salah satu kegagalan terbesar seorang kakak itu pasti ketika dia gagal menjaga adeknya dan melihat mereka sedih atau kecewa.” Akbar menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya dan mendongakkan kepala menatap langit-langit, memproyeksikan seakan ada Mas Malik di sana.

“Gue emang nggak punya adek. Tapi Gis, gue sadar akan hal ini setelah liat gimana usaha Kakak gue untuk ngembaliin jiwa gue yang mati setelah ditinggal bokap. Semua dia lakuin mulai dari nemenin gue duduk di balkon rumah sambil minum entah itu teh, kopi atau cuma air mineral kayak yang biasa gue lakuin sama bokap. Dan gimana usaha kakak gue untuk melakukan kegiatan yang berseberangan sama kepribadiannya.”

“Kakak gue itu bukan tipe orang yang suka merayakan. Dari dulu setiap bokap gue buat perayaan apapun, Kakak gue selalu ikut untuk sekedar formalitas. Setelah acara tiup lilin dan potong kue, dia selalu masuk lagi kedalam kamar.”

“Tapi di ulang tahun pertama gue tanpa bokap, kakak gue siapin segalanya untuk merayakan ulang tahun gue. Mulai dari kue, balon bentuk angka satu sama delapan, sampe usaha dia ngumpulin temen-temen gue di rumah.”

“Dari situ gue sadar kalo kakak gue lagi berusaha jadi kakak terbaik versinya dan memastikan agar gue nggak pernah merasa kehilangan semua kebiasaan gue sama bokap walaupun bokap udah nggak ada.” Akbar menarik napas dalam-dalam.

“Jadi, makasih ya Gis udah jadi kakak terbaik versi lo untuk Gilsa. Makasih udah selalu pasang badan dan mengusahakan segala hal untuk dia. Kalo tadi adek lo liat, dia pasti bakal kagum karna punya kakak yang keren.”

Tangis Giska seketika pecah, ia benamkan wajahnya pada kedua telapak tangan. Giska hanya tidak ingin kembali menjadi pusat perhatian, sampai-sampai ia menahan suara tangisnya agar orang lain tidak bisa mendengar.

“Nangis aja, Gis. Jangan ditahan,” ucap Akbar.

Laki-laki itu melepas jaket yang ia gunakan lalu melampirkan jaketnya di kepala Giska untuk menutupi wajah gadis itu.

“Udah nggak ada yang liat. Nangis aja,” bisiknya lagi.

Dan cara itu kembali berhasil membuat Giska membebaskan air matanya turun tanpa ampun.

Akbar hanya duduk di sebelah Giska, membiarkan Giska larut dalam kesedihannya. Kini, ia hanya perlu memastikan bahwa perempuan itu tidak sendirian.

1149 words.

Giska bergegas lari masuk ke dalam rumah sakit meninggalkan Akbar yang masih mencari parkir. Kakinya berlari seakan hafal di mana letak ruang IGD.

Tepat ia memasuki ruangan, matanya langsung menangkap Hanif yang sedang duduk menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong. Giska menarik kasar baju laki-laki itu dan memaksanya untuk bangkit dari duduk.

“Di mana adek gue?” bentak Giska dengan matanya yang menyalang.

Hanya respon terkejut yang diberikan Hanif, bibir laki-laki itu terasa kelu meski ia hanya perlu mengucapkan satu kata.

Keheningan terjadi beberapa detik, wajah Giska semakin memerah. Jika ia tidak ingat bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit, mungkin berbagai macam sumpah serapah sudah keluar dari mulutnya.

Tidak lama seorang petugas menghampiri Giska dan menenangkannya. Akhirnya ia melepaskan genggamannya dari baju Hanif, dihempaskannya tubuh laki-laki itu sampai terduduk kembali.

“Kakaknya wali dari Gilsa?” tanya petugas itu.

“Iya saya kakaknya.”

“Gilsanya di sebelah sana, mari saya antar.”

Urusannya dengan Hanif belum selesai, tapi untuk saat ini ia hanya ingin memastikan keadaan Gilsa. Kakinya kembali melangkah mengikuti langkah petugas.

“Gilsa ada di dalam, baru aja diberi obat jadi mungkin lagi istirahat kak.”

Giska mengangguk, “Makasih ya.”

Giska membuka sampiran dan menemukan Gilsa di sana yang sedang tertidur tenang dengan selang infus yang tersambung.

Tubuhnya seketika melemas menatap tubuh adiknya. Tidak pernah sekalipun melihat Gilsa terbaring lemah di Rumah Sakit. Hatinya hancur dan tanpa henti menyalahkan dirinya sendiri.

Tidak lama seorang perawat datang.

“Permisi, kakak dengan walinya Gilsa ya?”

“Iya, Mba.”

“Saya mau menginformasikan, kebetulan dokter yang menangani saudari Gilsa sedang menangani pasien lain. Saya diminta untuk menyampaikan, berdasarkan dari kadar hemoglobin dari saudari Gilsa itu sudah menyentuh di angka 9.8 gram per desiliter. Untuk normalnya kadar hemoglobin wanita berkisar antara 12 sampai 15 gram per desiliter. Dalam kasus saudari Gilsa, ini termasuk kedalam anemia ringan tetapi dengan gejala yang berat karena saat sampai ke IGD saudari Gilsa dalam keadaan pingsan. Dokter merekomendasikan saudari Gilsa untuk dirawat inap karena gejalanya yang terbilang berat. Seperti itu kak, untuk keputusan kami kembalikan ke keluarga. Jika sudah menentukan keputusan, kakak bisa langsung melakukan pendaftaran rawat inap ya. Terima kasih.” Perawat menjelaskan dengan hati-hati.

Sedangkan Giska, bahkan ia tidak tahu harus mengekspresikan diri seperti apa lagi. Rasanya seperti dihantam satu bongkah batu besar, dunianya yang sudah hancur kini semakin hancur lebur tidak berbentuk ketika mendengar penjelasan itu.

Keluhan pusing yang sering ia dengar dari Gilsa ternyata bukan hanya sekadar alasan untuk adiknya bolos dari kelas fisika. Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah benar yang diucapkan Teh Gya pada dirinya. Giska itu seorang Kakak, tapi kenapa tidak bisa tegas.

Saat itulah tangisnya terurai. Kalau saja kemarin ia mengikuti perintah Kak Gya untuk membawa Gilsa ke Dokter. Kalau saja ia bisa lebih tegas dan memaksa Gilsa untuk ke Dokter. Mungkin tidak akan separah ini keadaannya.


Giska duduk pada kursi yang ada di luar IGD. Ponsel ditangannya memperlihatkan room chat Teh Gya, sudah berkali-kali perempuan itu mengetik tetapi setelahnya ia hapus kembali.

Ia tidak takut dimarahi, tapi yang lebih ia takuti adalah membuat mama dan papanya yang jauh menjadi khawatir, terlebih lagi saat ini jam menunjukkan pukul setengah 2 malam.

Tak lama, suara langkah kaki terdengar. Semula jauh kini semakin dekat, hingga si pemilik hinggap dan berdiri tepat dihadapan Giska.

Giska mendongakkan kepalanya, ia menemukan Hanif dengan penampilannya yang terlihat lebih kacau dari sebelumnya. Rambutnya yang berantakan dan matanya seakan dipenuhi oleh awan mendung yang siap menumpahkan air kapanpun.

“Teh Giska, maaf.” Terdengar nada penyesalan di sana.

Lantas Giska berdiri dan menatap nyalang kearah Hanif untuk kedua kalinya.

“Ini emang salah saya, Teh. Maaf.” Permintaan maaf kedua keluar dari mulut Hanif.

Wajah Giska kembali memerah, tetapi ia terus berusaha mengontrol emosinya.

“Abis lo apain Gilsa?” tanyanya dengan tenang tapi tetap mengintimidasi.

“Sebelum Gilsa pingsan, kita sempet adu mulut. Nggak nyangka juga bisa sampe kayak gini, Gilsa juga nggak ada cerita kalo dia lagi sakit. Dia cuma bilang lagi haid.”

“Nggak nyangka? Terus baru nyeselnya sekarang?”

Hanif hanya menunduk.

“Berantem karna apa?”

“Masalah kecil aja, Teh.”

Giska terkekeh. “Gue kakaknya Gilsa, gue tau gimana sifat adek gue. Dia bukan tipe orang yang ngurusin masalah kecil, kalo kayak gini gue yakin masalahnya besar. Mau gue denger langsung dari mulut lo sendiri dan kita selesaiin ini baik-baik, atau gue cari tau sendiri dan lo terima konsekuensinya karna udah bikin adek gue pingsan sampe harus rawat inap?”

Keheningan pun terjadi. Tidak ada jawaban dari Hanif untuk beberapa detik, laki-laki itu mulai merasa tedesak dan takut.

“Gue hitung sampe tiga.”

“Satu.”

“Dua.”

“Ti...”

“Gilsa liat saya jalan sama cewe lain, Teh.”

Semula Giska tidak ingin membuat kegaduhan, tetapi akhirnya amarahnya pecah saat mendengar kalimat itu.

“Brengsek!”

Giska mendorong tubuh Hanif hingga oleng. Kalau saja laki-laki itu hilang keseimbangan, mungkin sudah jatuh bersimpuh di lantai.

“Anjing lo, laki-laki nggak tau diri! Nggak puas lo kalo cuma morotin adek gue? Sekarang apa udah puas lo udah bikin dia sakit hati dengan cara lo selingkuh? Dia itu udah sakit tapi lo buat makin sakit sampe harus dirawat kayak gini. Puas lo?” teriak Giska.

Kali ini Giska sudah tidak peduli dengan sekitarnya yang sedang menatapnya penasaran, ia hanya ingin membalas rasa sakitnya Gilsa.

Sedangkan Hanif tidak bisa berkutik, ia tetap menunduk mengarahkan matanya pada kedua ujung sepatu yang ia gunakan.

“Jangan kira gue selama ini nggak tau ya apa aja udah yang lo minta ke Gilsa. Gara-gara lo juga dia bisa bohongin gue bahkan bokap nyokapnya. Semua gara-gara lo!”

Mata Giska penuh dengan kemarahan, seakan tidak akan membiarkan laki-laki dihadapannya lolos begitu saja.

“Dia berani bohong, berani ngebantah, bahkan bolos sekolah dan bimbel. Mau sampe mana lo hancurin adek gue?”

Hanif masih tetap bungkam.

“Jawab anjing! Lo punya mulut nggak?!” teriak Giska dengan suara yang mulai bergetar. Teriakannya berhasil mendatangkan dua petugas Rumah Sakit dan..

Akbar.

Sedari tadi Akbar menunggu di kursi tunggu customer service karena ia menunggu balasan chat dari Giska. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dan Akbar kenal suara itu, dengan langkah besar ia berlari menghampiri sumber suara.

Dilihatnya Giska yang sudah membabi buta. Akbar dengan cepat menahan tubuh Giska yang semakin bergetar karena tangisan dan amarahnya yang semakin meledak.

“Gis, tenang.” bisik Akbar menenangkan Giska.

Giska menepis tangan Akbar.

“Lo jauhin adek gue, jangan pernah hubungin dia lagi atau gue bawa masalah ini sampe ke orang tua dan sekolah!” ancam Giska.

“Tapi Teh..” Suara Hanif tecekat, ia tidak berani menyelesaikan kalimatnya.

“Tapi apa? Tapi lo masih sayang Gilsa? Kalo sayang nggak mungkin kepikiran buat selingkuh!”

“Saya nggak selingkuh, Teh.”

“Apapun alesannya, dari awal gue nggak suka sama lo karna selalu bawa pengaruh buruk buat adek gue! Pergi lo sekarang.”

“Kalo gitu sampein maaf saya untuk Gilsa,” lirih Hanif. Tanpa pembelaan apapun ia balik badan dan pergi menjauh dari sana.

Laki-laki itu sadar akan semua kesalahannya. Semua yang diucapkan Giska menyadarkan bahwa memang dirinya-lah tokoh jahat disini.

Dari kejadian ini juga membuatnya sadar. Dibalik tindakan cerobohnya pada Gilsa, ada keluarga yang akan terluka dan hancur melihat anak dan adik perempuannya disakiti laki-laki tidak tahu diri.

Kalau diberi kesempatan, Hanif mau berlutut di hadapan Gilsa.

588 words.

Dalam sekali hentakan Giska menutup laptopnya secara paksa, tidak peduli bagaimana draft skripsinya yang belum sempat ia simpan. Pikirannya yang carut marut membuatnya hilang kendali. Dimasukkannya seluruh barang dengan asal ke dalam ransel.

Sedangkan Akbar yang sedang asik bermain game diponsel mendadak berhenti. Dan hal yang mustahil terjadi, saat ini bisa terjadi. Kali ini, ia membiarkan karakternya tertembak oleh lawan tanpa perlawanan apapun setelah melihat Giska yang terlihat panik.

“Gis, kenapa?” tanya Akbar.

“Bay, gue duluan ya. Makasih banyak,” kata Giska tanpa menjawab pertanyaan Akbar.

Yang perempuan hendak bangkit untuk meninggalkan tempat, tetapi dengan cepat Akbar menahannya.

“Eh bentar. Gue tanya kenapa?”

“Gilsa,” lirih Giska.

Perlahan kepanikannya mereda dan digantikan dengan tangisan, kini dirinya kembali terduduk lemah membuat rasa panik berpindah pada Akbar yang melihat perempuan dihadapannya tiba-tiba menangis, lagi.

Akbar mematung ketika dirinya tidak tahu harus berbuat apa karena tiba-tiba terjadi begitu saja tanpa aba-aba, dari tempat duduknya ia menatap tubuh Giska yang terus bergetar.

Akhirnya laki-laki itu membuka suara, “Pelan-pelan, lo mau cerita sama gue?” tanya Akbar dengan tenang, berusaha tidak membuat Giska panik kembali. Sejujurnya ia sangat clueless karena tidak tahu siapa itu Gilsa dan apa yang baru saja terjadi.

“Nanti ya, Bay,” ucap Giska sembari membuka aplikasi gojeknya untuk memesan ojek online.

Akbar menahannya ketika Giska ingin menekan tombol pesan, lalu dimasukkannya ponsel Giska ke dalam tas perempuan itu.

“Nggak usah pesen gojek, ada gue,” kata Akbar dan langsung menggandeng Giska untuk keluar dari Cafe.

“Lo tunggu sini, gue matiin lampu sama kunci pintu dulu. Hitung 30 detik gue janji udah di sini lagi.” Setelah mengatakan itu, Akbar langsung berlari kembali masuk ke dalam Cafe untuk mematikan semua lampu dan mengunci pintu.

Tanpa memberikan jawaban, Akbar lebih dulu menjauh dari pandangan Giska. Ia menunggu sampai Akbar kembali, tanpa ia sadari dalam hatinya menghitung 30 detik seperti yang diperintahkan Akbar.

“Ayo,” ajak Akbar dengan napasnya yang terengah-engah. Hitungan Giska itu belum genap tiga puluh, tapi Akbar sudah kembali dihadapannya.


Sesampainya di rumah, perempuan itu langsung berlari masuk kedalam rumahnya. Diketuknya pintu hingga puluhan kali dan tidak henti-hentinya memanggil nama Gilsa, tapi nihil, tidak ada respon apapun yang Giska dapat dari dalam rumah.

Ia bergegas menengok vas bunga yang biasa dijadikan tempat menaruh kunci, dan ternyata kunci rumah masih tertata rapih seperti semula saat Giska menaruhnya.

Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya, telapak tangannya terasa basah hingga ponsel yang digenggamnya mendadak licin ketika ia mencari nama Gilsa di daftar kontak.

Akbar masih menunggu di samping mobilnya. Melihat Giska yang semakin lama semakin gelisah membuatnya enggan angkat kaki dari sana. Padahal sebelumnya Giska sudah memberi perintah agar Akbar pulang saja mengingat jam sudah menunjukkan pukul 12.

Giska masih berusaha menelfon Gilsa, padahal sudah jelas hanya suara operator yang terdengar. Nomernya sudah tidak aktif sejak Giska mencoba menelfonnya di cafe tadi.

Tak lama, pesan kembali masuk dan menampilkan nama Vieda di sana. Dengan cepat Giska membukanya, sebuah informasi di mana Gilsa berada.

Setelah membaca pesan tersebut, Giska bergegas mengambil kunci motor ke dalam rumahnya. Sebenernya perempuan itu tidak terlalu mahir dalam mengendarai motor dan sudah lama juga motor itu hanya terparkir di dalam garasi rumahnya tanpa ada yang menyentuh, karena biasanya hanya digunakan Mamanya ketika pulang ke Bandung.

Giska kembali keluar dan bersiap mengeluarkan motor. Akbar yang melihat langsung bergegas menghapiri perempuan itu.

“Mau kemana? Gue anterin aja, Gis.”

“Nggak usah, udah malem lo pulang aja. Gue bisa sendiri kok.” Bukan Giska namanya kalau tidak merasa dapat melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain.

“Nggak papa. Gue juga bisa temenin lo kok, biar lo nggak sendirian malem-malem gini.”

1483 words

Giska kira untuk hari ini ia tidak akan pernah menginjak lantai teras rumahnya, bahkan untuk membuang sampah ke depan rumah pun perempuan itu tidak terpikirkan sama sekali. Hari ini rasanya tidak ada sedikitpun energi untuk bangkit dari kasur.

Dengan langkah gontai Giska berjalan menuju pintu utama rumahnya. Ia terdiam beberapa menit berdiri di depan pintu dengan tangan menggenggam handlenya, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang masih terasa sangat sesak setelah menangis, dan sesekali perempuan itu menarik lalu mengembuskan napas.

Sedangkan Akbar, masih menunggu pintu itu terbuka dan menampilkan Giska di sana. Laki-laki itu tidak sabar melihat ekspresi seperti apa lagi yang akan Giska perlihatkan, membayangkan senyum lebar perempuan itu saja Akbar sudah tidak sanggup.

Tak lama kemudian, akhirnya pintu terbuka dan Akbar pun menyambutnya dengan senyum lebar. Tetapi tidak seperti dugaannya, justru Giska menampilkan raut wajah datar dengan kantung mata yang membengkak, bahkan hidung dan matanya tampak memerah. Siapapun yang melihat akan berpikir hal yang sama dengannya, pasti perempuan itu habis menangis.

Akbar melangkah mendekati Giska. “Baru bangun ya?” Dibanding menanyakan kenapa mata perempuan itu bengkak, Akbar justru memberikan pertanyaan lain.

Seperti belajar dari pengalaman. Yang ia tahu, ketika ditanya bagaimana keadaannya, Giska selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja walaupun berbanding terbalik dengan matanya yang mengatakan tidak baik-baik saja.

“Iya, lo ngapain jauh banget sampe kesini?” Suaranya terdengar tenang seperti memang tidak terjadi apa-apa.

“Liat dong apa yang gue bawa.” Akbar menunjuk ke arah bapak-bapak yang berdiri tepat di samping motor laki-laki itu.

Giska mengerutkan keningnya. “Siapa?” Ia sama sekali tidak mengenali Bapak itu.

“Katanya lo mau gemblong, tuh gue bawain,” ucap Akbar.

Lalu Akbar mempersilakan Bapak itu untuk masuk ke dalam pekarangan rumah Giska. “Pak, punten, masuk aja sini,” perintahnya. Yang diberi perintah pun mengikuti untuk masuk ke dalam.

Giska terdiam ketika melihat Bapak itu masuk dengan membawa satu drum ukuran sedang berwarna biru yang bertuliskan ‘gemblong’ disana.

“Lo ngapain bawa abangnya juga sampe sini, Bay?” tanya Giska yang masih terlihat kaget.

“Kan lo sendiri bilang mau gemblong yang emberan? Ini barusan gue nemu di jalan, jadi langsung aja gue ajak kesini abangnya.”

“Maksud gue nggak usah sampe dibawa kesini juga. Lo ketemu di mana?”

“Di pasar deket rumah gue. Kan lo katanya mau, Gis.”

Giska memegang pelipisnya. “Iya tapi beliin aja kan bisa, Bay, kasian abangnya jauh banget dari sana kesini,” jelas Giska.

“Teu masalah, Neng. Bapak oge biasana ngajual sampe ka alun-alun,” balas Bapak penjual gemblong itu. (trans: nggak apa-apa, neng. Bapak juga biasanya jualan sampe alun-alun)

“Tuh, nggak papa. Tenang, gue yang tanggung jawab. Lagian kalo lo mau gemblong emberan, ya harus gue ajak juga abangnya, nggak bisa gue bawa embernya doang.” Setelahnya Akbar terkekeh.

Sampai saat ini, Giska masih tidak mengerti kenapa Akbar bisa seajaib ini. Dari ucapan, tingkah laku, sampai bagaimana cara laki-laki ini memperlakukannya itu terasa sangat ajaib.

Sesungguhnya, Akbar bukan pesulap, juga bukan badut. Dunianya tak terhubung sama sekali dengan sirkus. Tetapi bagi Giska, setiap ucapan dan seluruh perlakuannya bagai mantra seorang pesulap. Ajaib.

Giska menghela napas, berjalan menghampiri penjual gemblong itu dan mengabaikan ocehan Akbar barusan.

“Pak, satunya berapa?” tanya Giska.

“Dua ribu, Neng,” jawab penjual gemblong sembari mengambil plastik.

“Mau 25 biji deh, Pak.”

“Muhun, Neng.”

Tanpa disadari kedua ujung bibir Giska terangkat setelah melihat satu persatu gemblong yang ia idam-idamkan dimasukkan ke dalam plastik.

“Bapak biasa jualan kemana aja?” tanya Giska membuka percakapan.

“Nggak nentu. Biasanya mah muter aja, Neng. Cari weh yang loba jelema.” (trans: cari aja yang banyak orang)

Giska mengangguk mengerti. Sedangkan Akbar di sebelahnya hanya ikut memperhatikan penjual gemblong menyiapkan pesanan Giska, sesekali menoleh kearah perempuan itu dengan isi kepala yang masih bertanya-tanya apa benar dia baik-baik saja?

“Ini, Neng.” Penjual tersebut menyerahkan pesanan Giska dan ia menerimanya.

“25 berarti 50 ribu ya? Sebentar ya, Pak.”

“Udah di bayar, Neng, sama si ‘Aa.”

Giska menoleh kearah Akbar yang sedang mengangguk, seakan mengerti kalau Giska sedang mempertanyakan kebenarannya.

“Kapan?” tanya Giska dengan heran, yang ia lihat sedari tadi Akbar belum mengeluarkan dompetnya, apalagi uang.

“Pokoknya udah gue bayar,” jawab Akbar. Sedangkan bagi Giska, jawaban Akbar itu sama sekali belum menjawab pertanyaannya.

Penjual gemblong pun bangkit setelah menutup kembali drum yang berisi gemblong.

“Yaudah, Neng, ‘A. Hatur nuhun nya, bapak lanjut jualan,” pamitnya.

“Pak, mau dianter ke pasar lagi atau gimana?” tanya Akbar.

“Nggak usah ‘A, saya lanjut jualan daerah sini aja.”

“Beneran, Pak? Kalo mau balik kesana biar saya pesenin gojek.”

Giska memukul pundak Akbar, yang dipukul reflek memegang pundaknya dan berlagak kesakitan.

“Kok pesenin gojek, anterin lah. Lo yang bawa kesini juga,” sinis Giska.

Si Bapak terkekeh, “Nggak usah, nggak papa. Mari, Neng, ‘A.” Tak lama setelah pamit, penjual gemblong itu pun tidak lagi terlihat.

Kini hanya ada Akbar dan Giska yang masih berdiri mengamati si penjual gemblong menjauh. Giska tiba-tiba menoleh menghadap ke arah Akbar, wajah perempuan itu terlihat bersiap untuk mengomel.

“Kasian tau, Bay, bapaknya. Kalo ternyata rumah beliau di daerah deket rumah lo gimana? Kan jadi jauh banget pulangnya.”

Akbar terkekeh melihat wajah serius Giska. “Tadi kan udah gue tawarin, Gis. Bapaknya sendiri yang bilang nggak usah.”

“Ya karna dia juga nggak enak pasti. Terserah deh,” gerutu Giska. “Nih ya, gara-gara lo gue beli 25 biji. Gue nggak enak sama bapaknya, udah jauh-jauh nyampe sini masa belinya cuma 5 biji. Padahal di rumah cuma gue sendiri doang, siapa yang mau ngabisin coba? Gue nggak serakus itu,” lanjutnya mengoceh sambil melihat kantong berisi gemblong.

Jujur saja, saat ini Akbar merasa gemas mendengar Giska mengoceh tanpa henti.

“Yaudah ayo makan bareng, gue kan juga mau gemblong,” ucap Akbar lalu melirik ke arah kursi di samping kanannya. “Boleh duduk nggak nih?” tanyanya.

Giska mengangguk dan ikut duduk di kursi satunya. Mereka pun mulai menyantap makanan manis yang terbuat dari ketan yang dibalut dengan gula merah itu.

“Eumm.” Sampai-sampai Giska mengeluarkan suara saking senangnya ketika menggigit makanan yang dari kemarin ia cari.

“Enak?”

Giska mengangguk senang, membuat Akbar tidak bisa menahan senyumnya.

Sebenarnya, ada banyak pertanyaan di dalam kepala Akbar, tetapi ia terus berusaha menahannya karena takut pertanyaannya malah akan membuat Giska menjadi tidak nyaman. Tapi perasaan ingin terus membuat Giska merasa aman itu selalu datang ketika perempuan itu menampilkan raut wajah yang kusut dihadapannya.

“Lo abis ngapain pagi-pagi ke pasar?” Akhirnya Giska yang membuka pertanyaan.

“Tadi beli lontong sayur buat kakak gue sama buat gue.”

“Terus udah lo beliin?”

“Udah, abis gue anterin ke rumah langsung balik lagi ke pasar buat jemput abangnya, terus baru kesini.”

“Berarti lo udah sarapan, kan?”

Akbar menggeleng sembari mengunyah gemblong keduanya.

“Kenapa nggak sarapan dulu?”

“Ini lagi sarapan.” Akbar mengangkat gemblong yang ada di tangannya.

Giska melengos tidak menanggapinya.

“Lo juga kan baru bangun, berarti belum sarapan?”

“Ini lagi sarapan,” balas yang perempuan, yang laki-laki hanya tertawa karena kesalnya Giska menurutnya sangat lucu.

Keduanya mendadak diam sembari mengunyah gemblong masing-masing. Giska menatap lurus pada tanaman hias milik Mamanya yang mulai layu persis dengan dirinya sekarang.

“Gis.”

Panggilan pertama

“Gis?”

Panggilan kedua

“Giska?”

Giska tersadar dan menoleh ke Akbar yang sedari tadi memperhatikannya yang sedang melamun tanpa terlewatkan sedetik pun.

“Sorry, kenapa, Bay?”

“Lo yang kenapa?”

“Hah?”

“Are you okay?” Akhirnya Akbar mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu pikirannya.

Mendengar pertanyaan itu, Giska diam untuk beberapa detik sampai akhirnya perempuan itu tersenyum ke arah Akbar sebelum menjawabnya.

Giska menggeleng. “No, i’m not. Hahaha,” jawabnya lalu disertai tawa di akhir kalimat.

“Tadinya gue mau jawab i am doing fine. Tapi kayaknya mata gue nggak bisa bohong ya, Bay?” lanjutnya.

Akbar mengangguk. “It’s okay not to be okay, Gis. So...stop trying to be like ‘i’m fine’ and stop trying to mask your feelings.”

“Tapi gue udah terbiasa hidup tanpa ditanya gimana keadaan gue. Jadi ketika ada orang yang nanya, gue akan memperlihatkan sisi gue yang baik-baik aja seperti biasanya.“

Akbar terdiam, dilihatnya kepala Giska yang semakin lama semakin menunduk. Bahkan suaranya pun terdengar menyakitkan bagi Akbar.

Giska menarik napasnya yang terasa berat. “Tiap masalah dateng, gue selalu sibuk yakinin diri ‘i can handle everything’. But honestly, gue butuh someone to talk. Tapi lagi-lagi ketika ada yang nanya keadaan gue, gue nggak tau gimana caranya mengungkapkan perasaan itu. Sampe akhirnya cuma jawaban ‘i’m okay’ yang keluar dari mulut gue.”

“Lo bisa, Gis. Buktinya sekarang lo lagi mengungkapkan gimana perasaan lo.” Akbar meyanggah penuturan Giska.

Giska menunduk, berusaha menahan air matanya yang memaksa untuk keluar. Sedangkan baginya sudah cukup menangis untuk hari ini, terlebih lagi ia tidak ingin Akbar melihat sisi dirinya yang lemah.

“Lo boleh nangis, gue nggak akan denger,” ucap Akbar sambil memasang airpods pada kedua telinganya.

Mendengar itu, akhirnya Giska menyerah dan membiarkan air matanya turun kembali. Dari ekor matanya, Akbar melihat tubuh perempuan di sampingnya bergetar hebat. Tangannya coba menggapai pundak Giska dan menepuknya perlahan, berharap tepukannya dapat menenangkan.

Akbar mematikan musik yang tersambung pada airpods tanpa melepaskan benda itu dari telinganya, ia membiarkan suara tangisan Giska menggantikan suara musik dari band favoritnya.

Tujuh menit waktu berjalan dan tangis Giska mulai mereda, Akbar akhirnya membuka suara.

“Lo bilang, lo bisa yakin sama gue kalo gue bisa kasih tau dimana abang gemblong yang jualannya masih pake ember. Udah gue lakuin.”

Giska mengangkat kepalanya untuk menatap Akbar.

“Apa sekarang lo udah yakin sama gue, Gis? Kalo udah-” kalimat Akbar terputus.

“Mulai sekarang, lo bisa jadiin gue someone to talk yang lo maksud itu. I will listen,” lanjutnya.

1743 words

Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, Giska berjalan keluar dari lobby perpustakaan untuk menghampiri Akbar yang sedang memperhatikan pergerakkan Giska dari tempatnya menunggu.

Perpustakaan tutup pukul 21.00, tetapi biasanya beberapa menit sebelumnya staff perpustakaan sudah mulai membenahi rak dan mematikan lampu lampu di dalam. Terlebih lagi tadi yang tersisa hanya Giska sendiri yang masih asik dengan alam mimpinya.

Akbar memberikan helm yang sengaja dibawanya untuk Giska pakai. Malam ini malam minggu, biasanya polisi mengambil kesempatan untuk melakukan razia kepada pengendara yang tidak menggunakan helm.

Giska pun menerima helm itu. “Kok lo sih yang dateng?” tanya Giska sambil sibuk mengaitkan ikatan helmnya yang tidak berhasil-berhasil.

Akbar yang melihat gemas sendiri dan akhirnya berinisiatif untuk membantu mengaitkannya. “Kalo susah tuh minta tolong. Bay, tolong dong susah nih. Gitu.”

“Orang gue bisa sendiri.” Bukan Giska kalo tidak merasa dirinya bisa melakukan segalanya sendiri tanpa bantuan orang lain.

“Bisa apanya?”

Tali helm pun terkait dengan sempurna setelah Akbar membantunya. Setelah itu Giska naik ke atas motor milik Akbar dan membenarkan posisi duduknya.

“Udah?” tanya Akbar memastikan sebelum menancapkan gas motornya.

“Udah.”

Yang laki-laki hanya mengangguk sembari melepas jaketnya yang sedari tadi ia gunakan. Giska memperhatikan Akbar melepas jaket.

“Gue nggak dingin, lo mau nawarin jaket lo biar gue pake kan?” tanya Giska dengan tebakannya yang sangat percaya diri.

“Ih, GR. Orang gue gerah,” balas Akbar. Bohong. Sebenarnya memang kenyataannya ia ingin memberikan jaketnya untuk dipakai Giska karena udara malam ini cukup dingin, sedangkan Giska hanya menggunakan kaos lengan pendek. Tapi perempuan itu lebih dulu menangkap basah sikapnya.

Akbar pun mengikat jaketnya di lehernya. “Tapi kalo lo beneran kedinginan nggak papa pake aja nih jaket gue,” tuturnya.

Akhirnya Akbar melajukkan motornya. Tak ada percakapan diantara mereka berdua setelah motor berjalan. Akbar hanya fokus pada jalan raya, sedangkan Giska menatap langit yang menurutnya bagus karena bulan terlihat sangat indah malam ini. Bulan yang hanya menampakan setengah dari dirinya.

Mereka melewati jalan layang pasupati, tidak jarang ada barisan mobil mobil dan motor di sana. Giska menepuk pundak Akbar sebelum berbicara.

“Bay, boleh berhenti sebentar aja nggak di sini?” tanya Giska dengan suara yang cukup keras karena dikhawatirkan Akbar tidak mendengar suaranya.

“Mau ngapain?”

“Bentar aja serius, minggir sini dulu sedetik,” mohon perempuan itu.

Akbar pun menuruti keinginan Giska untuk berhenti, ia menepikan motornya.

“Kenapa?” tanya Akbar lalu menoleh, dan menemukan Giska yang sedang membidik kamera ponselnya ke atas langit.

“Foto langit. Bulannya bagus,” jawab Giska dengan senyum yang lebar. Sepertinya Akbar belum pernah lihat sebelumnya.

Akbar hanya diam memperhatikan dan menunggu sampai Giska selesai memotret langit yang menurutnya bagus.

“Udah! Ayo cus jalan lagi.” Giska memamerkan deretan giginya

Akbar terkekeh. “Gue kirain kenapa, Gis.”

“Sorry ya, gue suka banget soalnya sama langit. Jadi kalo langitnya lagi cantik harus banget gue abadikan, buat koleksi probadi,” jelas Giska setelah motor yang Akbar kendarai kembali mulai melaju.

“Senja. Lo suka senja?”

“Gimana pun bentuk langit kalo menurut gue indah, ya gue suka.”

Akbar hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu setelahnya tidak ada lagi percakapan tentang langit.

“Lo laper nggak?” Akbar kembali membuka suara.

“Hah?” Ramainya suara kendaraan dan angin yang lumayan kencang membuat suara Akbar tidak jelas untuk pendengaran Giska.

“Lo laper nggak?” Akbar pun mengulang pertanyaannya dengan suara lebih besar, berharap kali ini Giska dapat mendengarnya.

“Oh. Nggak.”

“Mau makan di mana?”

“Gue nggak laper.”

“Apa? Nasi goreng?” tanya Akbar. Sebenarnya ia mendengar jawaban Giska yang mengatakan perempuan itu tidak lapar, tapi Akbar tahu kalau Giska belum makan.

“Nggak laper.” Giska menambah volume suaranya sembari memajukan tubuhnya mendekat ke Akbar agar laki-laki itu bisa mendengar.

“Hah? Ayam geprek?”

“Budeg banget! Gue bilang gak laper.”

“Ketoprak? Kayaknya udah habis deh yang langganan gue.”

“Gue nggak laper anjir!”

“Oh pecel lele? Oke, di deket sini ada pecel lele langganan gue.”

“SUMPAH LO NYEBELIN BANGET,” kesal Giska, sedangkan Akbar hanya tertawa dibalik helmnya.


Ternyata Akbar tidak bercanda. Dia benar-benar berhenti pada warung tenda pecel lele, jam segini sudah tidak terlalu penuh tetapi Giska bisa menebak kalau sekitar pukul 20.00 pasti warung ini sangat ramai karena ayam yang ada pada etalase sudah tersisa sedikit.

“Mau lele apa ayam, Gis?” tanya Akbar.

Giska menghela nafasnya kasar saat menatap Akbar. “Gue nggak laper.”

“Udah sampe sini masa nggak makan, Gis? Terakhir makan jam berapa gue tanya? Lo kan abis ngebo di perpus.”

“Siang,” jawab Giska singkat.

“Tuh kan, makan dulu biar sampe rumah langsung istirahat. Jadi, mau lele apa ayam?” Akbar mengulang pertanyaannya.

“Piranha.”

“Bu, ayam satu sama piranha satu ya.”

Giska terbelalak dengan apa yang barusan Akbar ucapkan pada ibu penjual. Dengan cepat Giska mengoreksinya, “Nggak bu, lele maksudnya.” Perempuan itu menatap Akbar dengan sinis. Kalau Akbar, tentu saja sedang senyum senyum tidak jelas.

Ibu penjual hanya terkekeh melihat dua remaja yang sedang memiliki hubungan tidak baik, terlihat dari sang puan yang menatap lawan jenisnya seperti ingin menghabisinya tanpa ampun.

“Ayam satu sama lele satu ya. Minumnya mau apa?”

“Minumnya mau apa?” Akbar kembali menoleh untuk bertanya pada Giska.

“Au ah.”

“Au ah satu sama es teh manis satu, bu.”

“Aqua mas?”

“Au ah katanya bu.”

Giska kembali menghela napas kasar, “Es teh manis bu,” ucap Giska.

“Oh, berarti es teh manis dua ya?”

Akbar mengangguk, “Jadi sekarang tau ya bu, kalo ada yang pesen piranha artinya lele. Kalo au ah artinya es teh manis,” canda Akbar yang membuat si Ibu pun tertawa dengan tingkahnya.

“Lo bisa duduk aja nggak?”

“Oke.”

Akbar akhirnya menuruti perintah Giska untuk duduk, ia mengambil kursi sebrang Giska, kini mereka duduk berhadapan. Giska hanya menopang dagunya pada telapak tangan perempuan itu, jari-jari pada tangan satunya mengetuk-ngetuk meja hingga menghasilkan nada-nada asal.

Akbar hanya memperhatikannya, perempuan itu terlihat lelah. Entah karena apa, matanya terlihat sayu, seperti ada benang kusut yang mengumpul di dalam kepalanya. Perempuan itu masih diam dengan tatapan kosong.

“Capek, Gis?” Akhirnya Akbar membuka percakapan.

Giska hanya mengangguk.

“Tapi makan dulu ya? Siang makannya jam berapa?”

“Nggak tau lupa, jam 11 mungkin.”

“Tuh kan udah lama banget, sekarang udah hampir mau jam 10 malem. Kasian perutnya,” bujuk Akbar.

“Kalo capek, nanti langsung istirahat ya sampe rumah,” lanjutnya.

Giska menggeleng. “Bukan capek fisik,” ucapnya dengan suara yang parau, ada kesedihan di sana.

Akbar diam. Bagaimana bisa Giska yang baru saja ia lihat bahagia ketika menatap langit, sekarang menjadi Giska dengan tatapan kosong sembari mengetuk-ngetuk meja.

“Gis,” panggil Akbar.

Giska tidak berniat untuk menjawab panggilan Akbar, masih dengan posisi yang sama ia diam.

“Lo tau nggak ada 5 pelajaran hidup yang bisa lo ambil dari langit?” lanjut laki-laki itu.

Tidak berniat merubah posisi, Giska menatap Akbar seakan meminta penjelasan maksud dari lima pelajaran hidup yang bisa diambil dari langit.

“Yang pertama, langit ngajarin kita tentang keadilan. Langit itu adil dalam membagi porsi antara siang dan malam. Mereka juga punya porsi keindahan yang sama antara siang dan malam, langit siang punya warna-warni sedangkan malam punya bintang-bintang. Begitupun kita yang harus adil untuk nggak m